Mantan
Kepala BIN A.M Hendropriyono kembali mengundang kontroversi. Dalam
wawancara dengan TV One 29/7/2009) Hendropriyono berusaha mengkaitkan
antara terorisme dengan apa yang dia sebut sebagai wahabi radikal.
Menurutnya wahabi radikal merupakan lingkungan yang cocok (habitat) bagi
terorisme. Tidak hanya itu, Hendropriyono juga mengkaitkan wahabi
radikal dengan Hizbut Tahrir dan Ikhwanul Muslimin.
Pernyataan
‘ngawur’ seperti ini disamping banyak yang tidak berdasarkan fakta juga
berbahaya. Meskipun tentu harus diakui memang ada kelompok Islam
memilih jalan kekerasan tujuannya. Namun melakukan generalisasi dengan
menyatakan itu setiap kekerasan adalah terorisme adalah keliru. Beberapa
kelompok Islam seperti Hizbut Tahrir telah menegaskan
ketidaksetujuannya bahkan pengecaman terhadap pemboman yang salah
seperti pemboman di Jakarta baru-baru ini .
Tindakan
kekerasan yang dilakukan kelompok mujahidin Islam di Palestina, Irak,
dan Afghanistan, tidaklah bisa disebut tindakan teroris. Apa yang
dilakukan oleh umat Islam disana adalah jihad memerangi penjajah yang
telah menduduki, merampas, dan membunuh umat Islam. Sudah tidak
terhitung berapa nyawa umat Islam terbunuh akibat penjajahan ini. Hal
yang sama pernah dilakukan oleh ulama Indonesia ketika bersama-sama
rakyat berjihad memerangi penjajah Belanda. Tindakan memerangi penjajah
tentu bukan terorisme. Justru para penjajah AS, Inggris itulah yang
melakukan tindakan terorisme negara dengan korban yang massif. Namun
sayangnya, fakta yang sangat jelas ini tidak banyak disinggung.
Termasuk
mengkaitkan terorisme dengan wahabi dengan dibumbui kata radikal
apalagi mengkaitkan dengan Hizbut Tahrir jelas adalah kedustaan
disamping berbahaya. Siapapun yang membaca dengan teliti buku-buku
Hizbut Tahrir bisa menyimpulkan bahwa tidak benar Hizbut Tahrir adalah
wahabi. Hizbut Tahrir adalah partai Islam yang bertujuan melanjutkan
kehidupan Islam dengan menegakkan syariah Islam di bawah institusi
Khilafah Islam.
Dalam kitab Kaifa Hudimat al Khilafah
(Bagaimana Khilafah Runtuh) yang ditulis oleh Amir Hizbut Tahrir yang
kedua Syekh Abdul Qadim Zallum mengkritik Gerakan Wahhabi yang
berkerjasama dengan Abdul Aziz bin Muhmmad bin Saud yang ditelah
dimanfaatkan oleh Inggris untuk memberontak kepada Daulah Khilafah
Ustmaniyah dan mendorong timbulnya perang antar Madzhab saat itu.
Hizbut
Tahrir juga dengan tegas dalam buku-bukunya yang menjadi rujukan amal
perjuangannya telah menegaskan jalan memperjuangkan syariah Islam
bukanlah dengan jalan angkat senjata. Upaya mengkaitkan Hizbut Tahrir
dengan terorisme jelas merupakan upaya membangun stigma negatif yang
didasarkan kepada kedustaan. Opini ini memang sengaja dibangun oleh
musuh-musuh Islam yang ingin menjauhkan Hizbut Tahrir dari ummat.
Seperti yang dilakukan oleh Zeyno Baran dari The Nixon Centre atau Ariel
Cohen.
Laporan
Ariel Cohen –yang pernah tinggal di Israel selama sebelas tahun dan
lulusan Bar Ilan University Law School di Tel Aviv– dipublikasikan oleh
the Heritage Foundation yang dikenal luas sebagai think-tank Konservatif
yang dekat dengan kelompok neo-Konservatif. Sementara Zeyno Baran
–Direktur Program Energi dan Keamanan Internasional Nixon Centre–
ternyata memiliki hubungan yang dekat dengan perusahan-perusahan minyak
AS yang beroperasi di Asia Tengah dan rezim otoriter di Asia Tengah
(lihat, Who is Zeyno Baran, www.khilafah.com) .Wajar kalau kemudian
banyak muncul ketidakakuratan, inkonsistensi, generalisasi keliru,
bahkan
kebohongan dalam tulisan-tulisan tersebut
Hizbut
Tahrir telah menegaskan garis perjuangannya untuk menegakkan syariah
Islam yang tidak menggunakan kekerasaan/angkat senjata (non violence).
Hal ini bisa dilihat secara terbuka dalam buku-buku rujukan HT, seperti
kitab Ta’rif (Mengenal HT) atau Manhaj Hizbut Tahrir fi Taghyir
(Strategi Hizbut Tahrir Untuk Melakukan Perubahan). Hizbut Tahrir dalam
hal ini berkeyakinan, bahwa perubahan yang dicita-citakan harus dimulai
dari pemikiran, serta menyakini bahwa masyarakat tidak dapat dipaksa
untuk berubah dengan kekerasan dan teror. Karena itu, garis perjuangan
Hizbut Tahrir sejak berdiri hingga hari Kiamat bersifat tetap, yaitu
bersifat fikriyah (pemikiran), siyasiyah (politik) dan la madiyah wa la
unfiyyah (non fisik dan kekerasan).
Terbukti,
dalam aktivitasnya lebih dari 50 tahun sejak didirikan HT tidak pernah
sekalipun menggunakan kekerasan meskipun banyak penguasa yang bersikap
refresif dan kejam terhadap HT. Dalam wawancara dengan Al Jazeera, 17
Mei 2005, Craig Murray, mantan Duta Besar Inggris untuk Uzbekistan,
mengatakan, “Hizbut Tahrir merupakan organisasi yang betul-betul tanpa
kekerasan.” (http://www.English.aljzeera.net).
Bill
Rammell mengatakan, “Kami belum menemukan bukti yang kuat bahwa Hizbut
Tahrir adalah organisasi yang menyerukan kekerasan atau terorisme. Kita
juga belum pernah melihat adanya hubungan kerjasama antara Hizbut Tahrir
dan al-Qaida (UK FCO Minister Bill Rammell, Hansard, 19/4/04). ICG juga
menyatakan hal yang sama tentang perbedaan HT yang melarang penggunaan
aktivitas kekerasan dengan kelompok jihad (International Crisis Group,
2/3/05).
Dengan
demikian, upaya mengkaitkan Hizbut Tahrir dengan terorisme adalah upaya
pelacuran intelektual, yang penuh dengan kepentingan, khususnya
kepentingan negara-negara besar, seperti AS dan Inggris. Penyebabnya
tidak lain, karena HT dianggap merupakan ancaman potensial terhadap
hegomoni Kapitalisme global yang telah menyengsarakan umat manusia. HT
juga merupakan ancaman bagi AS, karena menyerukan syariah Islam dan
Khilafah yang akan menggantikan sistem tirani global Kapitalisme ini.
Sebab Hizbut Tahrir memang menjadikan Kapitalisme menjadi penyebab
penderitaan manusia.
Tentu
saja sangat menyedihkan, kalau ada intelektual, atau kelompok yang
menjalankan agenda pihak asing ini, sebagai agendanya, yang sekaligus
membuktikan kemiskinan intelektualitasnya. Menyebar kebohongan dan
memprovokasi untuk mengelompokkan HT ke dalam kelompok terorisme.
Cap
terorisme juga sering digunakan oleh Barat dan kelompok pendukungnya
legitimasi untuk melakukan kedzoliman terhadap umat Islam. Pada
gilirannya siapapun yang melakukan perjuangan melawan penjajahan Barat
akan dicap teroris dan mereka berhak ditangkap tanpa bukti, disiksa
bahkan dibunuh. Seperti yang dialami oleh umat Islam diberbagai kawasan
dunia termasuk Indonesia. Dimasa Orde Baru, sangat banyak aktifis Islam
yang dizolimi, dibantai dan dibunuh seperti yang terjadi dalam peristiwa
Tanjung Priok dan tentu saja Talangsari Lampung ketika Hendropriyono
menjadi Danrem Garuda Hitam disana. Peristiwa yang tidak bisa dilupakan
oleh umat Islam dan tentu saja harus dipertanggungjawabkan oleh
pelakunya dihadapan Allah SWT di Hari Akhir nanti.
Generalisasi
kelompok Islam yang memperjuangkan syariah Islam dan Khilafah adalah
teroris jelas bermaksud untuk menjauhkan umat dari perjuangan syariah
Islam dan Khilafah. Padahal disamping merupakan kewajiban syari’ syariah
dan Khilafah adalah solusi tuntas bagi umat Islam untuk mengakhiri
penjajahan kapitalisme yang menjadi pangkal penderitaan umat Islam dan
umat manusia di dunia saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar